DIALOG BUDAYA DI PRE-EVENT GEOFEST 2026 RAJA AMPAT UGGp
Pusat Informasi Geologi Geopark Raja Ampat - Waisai | 8 Juni 2026
Filosofi Panggung Utama:
Masyarakat Raja Ampat selalu melakukan dialog baik keseharian maupun pembahasan serius di atas "senat", yaitu tikar dari batang sagu, dengan suguhan pinang sirih kapur, duduk dalam lingkaran, kepala sama rata dan saling memandang mata.
Dialog Budaya GeoFest 2026 menyatukan perspektif dari arkeologi Raja Ampat, pengelolaan warisan budaya di Geopark Global UNESCO Lenggong (Malaysia), masyarakat adat, perwakilan pemuda, dan anggota Dewan Legislatif Daerah Raja Ampat (DPRK).
Diskusi tersebut menyoroti bahwa konservasi alam dan pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan. Warisan bumi tidak hanya tertanam dalam bentang alam, formasi geologi, dan keanekaragaman hayati, tetapi juga dalam sistem pengetahuan, tradisi, cerita, bahasa, dan praktik yang telah berkembang bersama alam selama ribuan tahun.
Temuan arkeologi menunjukkan bahwa Raja Ampat merupakan salah satu jalur penting migrasi manusia purba dari Sundaland menuju Sahul, dengan bukti hunian manusia lebih dari 50.000 tahun lalu. Pada saat yang sama, pengalaman Lenggong menunjukkan bahwa pengakuan dunia terhadap suatu kawasan lahir dari kemampuan masyarakat menjaga dan memaknai hubungan antara manusia dan lingkungannya lintas generasi.
NARASUMBER 1
ABDUL RAZAK MACAP, S.Sos., M.Si
Raja Ampat UGGp - Indonesia
NARASUMBER 2
MOHD NOOR AZAM BIN ISMAIL
Lenggong UGGp - Malaysia
MODERATOR
DJUMIATI MUSTIAH, SP., M.Si
Program Studi Ekowisata Universitas Papua
PENANGGAP
ZETH DEMAS SAUYAI
Dewan Permusyawaratan Rakyat Kabupaten
Raja Ampat dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Namun kawasan ini juga menyimpan jejak panjang sejarah manusia yang masih relatif kurang dikenal publik.
Penelitian arkeologi di Gua Mololo, Warsambin, Teluk Mayalibit, Teluk Kabui, Misool, dan berbagai lokasi lainnya menunjukkan keberadaan hunian manusia purba, seni cadas, penguburan, gerabah, serta bukti interaksi manusia dengan lingkungan selama puluhan ribu tahun.
Melalui Dialog Budaya, para narasumber menegaskan bahwa keberlanjutan geopark tidak hanya ditentukan oleh perlindungan geologi dan biodiversitas, tetapi juga oleh keberlanjutan pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
1. Raja Ampat adalah lanskap budaya sekaligus lanskap alam
Presentasi dari para arkeolog mengungkapkan bahwa Raja Ampat telah menjadi bagian dari jalur migrasi prasejarah penting yang menghubungkan Sundaland dan Sahul selama lebih dari 50.000 tahun.
Penemuan arkeologis, termasuk seni cadas, makam, pecahan tembikar, dan bukti pemukiman awal, menunjukkan bahwa Raja Ampat memiliki nilai budaya dan sejarah yang luar biasa di samping nilai-nilai alamnya.
Implikasinya, konservasi Raja Ampat tidak dapat dibatasi hanya pada perlindungan spesies atau bentang alam.
2. Seni cadas menyimpan pengetahuan yang tidak tergantikan
Berbagai situs seni cadas di Waigeo dan Misool memperlihatkan cap tangan, figur manusia, hewan, perahu, simbol geometris, dan berbagai representasi budaya lainnya. Diskusi menegaskan bahwa gambar-gambar tersebut bukan sekadar karya seni, tetapi media penyimpanan informasi mengenai kehidupan, teknologi, kepercayaan, mobilitas, dan hubungan manusia dengan lingkungan pada masa lalu.
Ancaman vandalisme terhadap situs-situs tersebut berpotensi menghilangkan informasi yang tidak dapat dipulihkan kembali.
3. Pengetahuan adat merupakan bentuk konservasi yang telah berlangsung lama
Narasumber menegaskan bahwa masyarakat Raja Ampat telah mengenal praktik-praktik konservasi jauh sebelum istilah konservasi modern diperkenalkan.
Berbagai bentuk pengelolaan sumber daya laut maupun darat lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan keberlanjutan alam. Karena itu, indigenous knowledge harus dipandang sebagai bagian dari sistem konservasi, bukan sekadar pelengkap.
4. Pengakuan dunia lahir dari kemampuan menjaga sejarah dan identitas
Pengalaman Lenggong UNESCO Global Geopark menunjukkan bahwa pengakuan internasional dibangun di atas kombinasi warisan geologi, arkeologi, budaya, dan keterlibatan masyarakat.
Lenggong berkembang dari situs Warisan Dunia UNESCO menjadi UNESCO Global Geopark yang menghubungkan penelitian, konservasi, pendidikan, dan pembangunan masyarakat.
Pengalaman ini menawarkan pelajaran berharga bagi Raja Ampat dalam memperkuat hubungan antara pelestarian warisan budaya dan pembangunan masyarakat.
5. Generasi muda merupakan penerus utama warisan bumi
Diskusi bersama peserta dan pemuda menyoroti masih rendahnya pengetahuan generasi muda terhadap situs geologi dan budaya di wilayahnya sendiri.
Beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka baru mengetahui keberadaan situs-situs geologi dan arkeologi setelah mengikuti kegiatan Geofest. Karena itu diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk melalui cerita lokal, kegiatan lapangan, dokumentasi budaya, dan media digital.
Perwakilan DPRK Raja Ampat dari Jalur Otonomi Khusus, Bapak Zeth Demas Sauyai, menekankan bahwa:
Untuk Pengelola Geopark Raja Ampat
Untuk Pemerintah Daerah
Untuk Sekolah dan Generasi Muda
Keindahan Raja Ampat yang dikenal dunia saat ini bukan hanya hasil proses geologi dan evolusi alam, tetapi juga hasil hubungan panjang manusia dengan lingkungannya selama puluhan ribu tahun. Melindungi alam tanpa melindungi budaya berarti kehilangan sebagian besar cerita yang menjelaskan mengapa alam tersebut bernilai.
Sebagaimana disampaikan dalam Dialog Budaya Geofest 2026:
"Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari sejarah bagi Raja Ampat, Tanah Papua, dan dunia."








©2025 Raja Ampat UNESCO Global Geopark Management Body
Seluruh hak cipta.